Thursday, October 22, 2015

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI “KI CUROCONO DAN KI JEBUK” cerita rakyat Paranggupito



 
Makam Ki Curocono Di Desa Ketos Kecamatan Paranggupito

Pada jaman dahulu saat kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan sekitar abad 15, seluruh pembesar kerajaan dan para punggawa ada yang mengelana diseluruh pelosok Jawa. Salah satu punggawa  kerajaan Majapahit bernama Ki Curocono akhirnya sampai di pesisir selatan tepatnya di karangwungu Dusun parang Desa Paranggupito Kecamatan Paranggupito.
Karena bekas punggawa kerajaan, Ki Curocono memiliki beberapa kesaktian dan kekuatan supranatural. Kesaktian yang paling terkenal saat itu adalah memindahkan air dengan menggunakan keranjang rumput yang terbuat dari bambu dari telaga Dusun Gedong Dusun Sambi ke telaga Kedhokan. Padahal keranjang tempat rumput ini bagian bawahnya berlubang karena hanya terbuat dari bambu, yang mustahil bisa diisi air karena air pasti akan keluar melalui celah yang ada. Akan tetapi berkat kesaktian Ki Curocono air tersebut tidak bisa menerobos celah sehingga bisa untuk membawa air hingga jarak yang jauh. Air yang ada di Telaga Kedhokan sampai sekarang masih dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kesaktian lainnya adalah mampu mendatangkan hujan apabila musim kemarau dirasa memberatkan warga untuk mendapatkan air bersih. Dengan berbagai ritual khusus, Ki Curocono sanggup mendatangkan hujan dengan sangat deras.
Setelah menetap dan berbaur dengan masyarakat sekitar, Ki Curocono akhirnya semakin dekat dengan masyarakat. Berkat kesaktiannya pula, ia sering didatangi oleh warga untuk dijadikan murid  agar mendapatkan ilmu kebatinan dan kanuragan.
Semakin lama, jumlah warga yang menjadi murid semakin banyak, dan akhirnya Ki Curocono mendirikan perguruan “ Kejawen Kanoragan”.
Salah satu murid yang terkenal sangat rajin dan patuh adalah Ki Jebuk. Berkat kegigihan dan keuletan dalam mempelajari ilmu dari gurunya, Ki Jebuk akhirnya memiliki beberapa kesaktian yang bahkan bisa mengungguli gurunya.
Mendengar desas-desus yang menyebutkan kemampuan Ki Jebuk telah menyamai diri Ki Curocono maka sang guru ini dalam hati merasa iri. Ki Curocono akhirnya menyelediki sendiri kemampuan muridnya.
Dipanggilah Ki Jebuk untuk datang di suatu tempat yang diberi nama ladang Gelaran. Disuruhnya Ki Jebuk untuk memetik kelapa muda untuk dinikmati bersama-sama.
Dengan bekal kesaktiannya, Ki Jebuk menjentikan jarinya pada sebuah pohon kelapa, dan dalam sekejab saja pohon tersebut meliuk ke bawah seolah-olah mengarah ke Ki Jebuk untuk dipetik buahnya. Dan dengan mudah Ki Jebuk memetik buah kelapa dan menyerahkan kepada gurunya, Ki Curocono.
Melihat kesaktian muridnya ini, Ki Curocono bukannya bangga malah semakin membuat iri hati. Dalam pikirannya bagaimana cara menyingkirkan muridnya. Maka ketika melihat sang murid menengadah wajahnya untuk meninum air dari buah kelapa, Ki Curocono sekelibat menghunus senjata dan menebas leher muridnya. Berkali – kali menebas akan tetapi senjata yang digunakan tidak mampu melukai muridnya.
Akhirnya kejadian ini membuat muridnya, Ki Jebuk bersujud dan bersimpuh dihadapan gurunya karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena sangat menghormati sang guru, murid yang sakti inipun menceritakan rahasia kepada gurunya jika ingin menghendaki dirinya bisa mati.
Dengan penuh nafsu jika nanti tersaingi muridnya, Ki Curocono akhirnya memenggal juga kepala muridnya. Namun peristiwa ajaib kembali terjadi, setelah terpisah dari badannya, kepala Ki Jebuk kembali menyatu dengan badannya, sehingga hidup lagi. Dan terus berulang sampai beberapa kali.
Dengan kegigihan dan nafsu yang membara akhirnya, Ki Curocono berhasil menewaskan Ki Jebuk.  Setelah tewas, jasad badan Ki Jebuk dimakamkan di Gelaran, sedangkan kepalanya dimakamkan di tanah angker diberi nama Pok Simpen yang jaraknya setengah kilometer dari Gelaran.
Sampai pada waktunya, Ki Curocono akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Gedong Dusun Sambi Desa Ketos Kecamatan Paranggupito.
Berkat kesaktian dalam mendatangkan hujan inilah, tanah di sekitar makam Ki Curocono jaman dahulu digunakan sebagai tempat menggelar ritual mendatangkan hujan. Ritual ini disebut sebagai “Udan Dawet” karena ada prosesi memercikkan dawet atau minuman santan dan gula kelapa di sekitar tanah makam. Ritual yang unik ini sudah jarang digelar karena kemajuan jaman.
Narasumber cerita : Mbah Martosuparno, diceritakan kembali oleh Sucipto, S.Pd M.Pd (Pelestari Budaya Kecamatan Paranggupito).

Monday, October 19, 2015

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI “LEGENDA LUWENG BORAMPO” Cerita Rakyat Paranggupito

Luweng Borampo Paranggupito




Mbah Glemboh seorang petani yang rajin bekerja hingga lupa waktu. Bahkan karena kecapekan, Mbah Glemboh sering tidak pulang dan tidur di ladang. Meski demikian, istrinya tetap setia dan tiap hari mengirim makanan untuknya. Karena ladang yang luas dan berbukit, sang istri kadang-kadang tidak bisa menemui Mbah Glemboh, hanya menyuruhnya untuk meletakkan makanan di gubug di ladang. Saat mengirim makanan, isterinya kadang tidak bertemu, hanya mendengar suaranya untuk meletakkan makanan di gubug.
Pada suatu hari istri Mbah Glemboh penasaran. Setelah meletakkan makanan di gubug, ia mengintip di balik sebuah batu sambil menunggu suaminya menyantap makanan. Setelah sekian lama menunggu alangkah terkejutnya sang isteri karena melihat suaminya yang menghampiri makanan dengan wajah yang mengerikan.
Ternyata Mbah Glemboh telah berubah menjadi raksasa dengan taring yang sangat panjang mengerikan. Karena ketakutan, isteri Mbah Glemboh lari pulang dan melaporkan apa yang dilihatnya kepada warga desa. Mendengar laporan tersebut, akhirnya seluruh warga sepakat untuk menangkap Mbah Glemboh. Warga dengan senjata seadanya berangkat ke Hutan Brenggolo untuk menangkap Mbah Glemboh. Sesampainya di hutan Brenggolo warga mengepung dan mengejar Mbah Glemboh. Karena terdesak, dan tidak mau melukai warga desa, Mbah Glemboh lari dan dengan kesaktiannya dan terbang ke arah barat Hutan Brenggolo.
Warga desa tidak mau menyerah dan terus mengejar Mbah Glemboh. Akhirnya Mbah Glemboh hinggap di pohon Winong yang terletak di sebelah barat Dusun Gendayakan. Warga desa pun mengepung dan menyerang Mbah Glemboh. Merasa terdesak, Mbah Glemboh terbang ke selatan dan jatuh di Ladang Kedokan. Warga desa terus mengejar dan Mbah Glemboh lari dan memanjat sebatang pohon kelapa kemudian mengambil pelepah daun kelapa. Pelepah daun kelapa tersebut digunakan untuk terbang ke arah barat.
Warga desa terus mengejar dan ahirnya Mbah Glemboh jatuh di Hutan Larangan. Disebut Hutan Larangan, karena hutan tersebut angker dan jarang dimasuki orang. Tempat tersebut adalah luweng atau goa yang sangat dalam.
Di dekat luweng itulah Mbah Glemboh jatuh beserta pelepah daun kelapa yang digunakannya untuk terbang. Warga yang mengetahui Mbah Glemboh jatuh tersebut semakin semangat untuk mengejar dan siap untuk menyerangnya. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan ternyata Mbah Glemboh yang telah jatuh di pinggir luweng berubah menjadi sebongkah batu. Warga desa yang heran dan bingung akhirnya sepakat untuk membuang batu jelmaan Mbah Glemboh ke dalam luweng.
Beramai ramai warga mengangkat dan melempar batu tersebut ke dalam luweng apa yang terjadi? Batu yang di lempar tidak jatuh hingga ke dasar tetapi berada di tengah tengah luweng. Warga desa tidak bisa berbuat banyak, akhirnya pulang dan menganggap  Mbah Glemboh telah mati. Dan untuk mengenang Mbah Glemboh, luweng tersebut disebut Borampo (dari kata mabur dan ampuh, artinya terbang dan sakti). Hingga sekarang dikenal warga sebagai Borampo.
Luweng Borampo saat ini menjadi tempat tirakat dan ritual bagi mereka yang tengah bermasalah dengan hukum. Dan banyak yang pada akhirnya lolos dari jeratan hukum.
Saat ini, Hutan Brenggolo telah berubah telah berubah Menjadi areal ladang penduduk tanpa mengalami perubahan nama. Sedangkan ladang Kedokan tempat jatuhnya Mbah Glemboh terlihat batuan yang berupa tanah yang cekung seperti bekas kejatuhan benda yang besar dan keras. Namun Pohon Winong tempat hinggap Mbah Glemboh sudah tidak ada karena tumbang dan lapuk dimakan usia.

Monday, October 12, 2015

Mengenal Lebih Dekat Museum Karst Indonesia Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri






Museum Karst Indonesia


Museum Karst Indonesia merupakan wahana tempat memamerkan segala hal tentang batuan dan kawasan karst mulai dari sejarah geologi, kehidupan pra sejarah, hingga kehidupan kawasan karst di era modern.
Lokasi Museum Karst Indonesia terletak di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Jarak dari Kota Wonogiri kurang lebih 45 km dari Kota Wonogiri. Akses menuju lokasi sangat memadai dengan jalan yang bisa dilalui dengan kendaraan bus lengkap dengan area parkir yang luas.

Ide pembangunan Museum Karst Indonesia mengemuka saat diselenggarakan Lokakarya Nasional Pengelolaan Kawasan Karst di Kabupaten Wonogiri pada tanggal 4-5 Agustus 2004 yang digelar oleh Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral.
Kawasan karst Gunung Sewu yang meliputi tiga Kabupaten yaitu Gunung Kidul, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Wonogiri serta kawasan karst Gombong Selatan di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai kawasan ekokarst oleh Presiden Republik Indonesia.

Berdasarkan kajian dan perencanaan oleh Pemerintah pusat melalui Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemprov Jateng dan Pemkab Wonogiri bekerja sama untuk membangun Museum Karst Indonesia. Museum ini diresmikan oleh Presiden RI saat dijabat Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 30 Juni 2009. Museum Karst Indonesia mulai menerima kunjungan umum pada tahun 2010 dengan hari buka mulai senin-minggu dan tutup pada hari jumat.

Museum Karst Indonesia memiliki bangunan mirip piramida dari negara mesir, dengan tiga lantai yaitu Lantai bawah dengan tema “karst untu kehidupan”, Lantai 2 dengan tema “Karst Untuk Pengetahuan” dan lantai atas untuk ruang pertemuan dan pemutaran film tentang karst.

Karst Untuk Kehidupan berisi diorama sejarah bumi dengan kehidupan masa lalu terutama di kawasan karst hingga pemanfaatan batuan karst untuk industri modern. Diorama pertama berupa replika goa yang dilengkapi stalagmit dan stalagtit serta manusia pra sejarah. Kemudian ada gambaran lengkap tentang air dan tanah kawasan karst, keragaman flora dan fauna, sosial budaya masa lalu dan kini, manusia prasejarah, replika temuan tulang dan tengkorak manusia masa lalu, kawasan karst di Kabupaten Wonogiri, kerarifan lokal kawasan karst, tambang batuan gamping, dan konservasi kawasan karst.

Karst Untuk Pengetahuan berisi peta sebaran karst dunia, proses terjadinya bantuan gamping, terjadinya karst, batuan kalsit dan dolomit, tipe dan kawasan karst di Indonesia, contoh bantuan karst, dan maket-maket tentang goa, dan diorama berupa audio visual.


Dikawasan Museum Karst Indonesia terdapat beberapa situs goa dan luweng yang bisa dinikmati secara langsung. Ada tujuh goa dan luweng yaitu Goa Tembus, Goa Gilap, Goa Potro – Bunder, Goa Mrica, Goa Sodong,  dan Luweng Sapen. Selain itu, juga terdapat Pura Puncak Jagad Spiritual yang berada di bukit sebelah kiri Museum Karst. Pure ini dibangun sebagai tempat untuk upacara piodalan umat hindu dari Bali yang setiap bulan Juni berkunjung di Museum Karst.

Dengan kelengkapan yang ada di Museum Karst Indonesia maka layak menjadi salah satu destinasi wisata edukasi bagi keluarga. Ayo datang ke Museum Karst Indonesia.

Monday, October 5, 2015

Mengenal Lebih Dekat Kawasan Geo Park Gunung Sewu




 
Pantai Sembukan Salah Satu Situs Geo Park Gunungsewu di Geo Area Wonogiri



Geo Park atau Taman Bumi Gunung Sewu merupakan kawasan karst seluas 1.802 km2 yang terbentang sepanjang 120 km dari Pantai Parangtritis Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Teluk Pacitan Provinsi Jawa Timur. Kawasan ini berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur. Geopark Gunung Sewu juga telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia dalam konferensi Asia Pasifik Geopark Global Network di Sanin, Kaigan, Jepang pada tanggal 19 September 2015.

Kawasan Geopark Gunung Sewu memiliki bentang alam karst tropis yang sangat fenomenal terdiri dari lebih 40 ribu bukit batu gamping dengan kekayaan flora, fauna, keindahan alam, dan keunikan ragam budaya masyarakat lokal. Ribuan bukit batuan gamping merupakan bukit kerucut (conical hills) dan bukit melengkung (sinusoid hills) menghiasi hampir seluruh kawasan geopark Gunung Sewu.
Dibagian selatan terutama pantai selatan memiliki topografi pundak berlereng curam yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Bagian utara dibatasi oleh pematang pegunungan yang tersusun oleh gunung api, clastika asal gunung api, dan batuan beku sisa-sisa kegiatan gunung api purba.
Keindahan dan keunikan Geopark Gunung Sewu telah dikenal sejak lama bahkan telah gambarkan dalam sebuah lukisan oleh seorang doktor dari Jerman Frans Wilheim Junghuhn yang berkunjung di kawasan ini pada tahun 1851.

Sejarah Terbentuknya Geopark Gunung Sewu
Kawasan gunung sewu merupakan kawasan batuan gamping yang terbentuk 15 hingga 2 juta tahun yang lalu. Banyak dijumpainya  fosil hewan laut di kawasan Geopark Gunung Sewu, sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan ini merupakan laut kedalaman kurang lebih 40 meter yang terangkat kepermukaan, kemudian terbentuk morfologi seperti bukit, lembah, dan lekukan topografi yang sangat unik. Proses pembentukan kawasan di Gunung Sewu dikendalikan oleh struktur biologi, seperti patahan dan retakan yang memfasilitasi masuknya air hujan ke dalam lapisan batu gamping yang lebih dalam.
Pengangkatan batuan gamping ini ke atas permukaan air laut ini membuat batu gamping mengalami proses pelarutan oleh air membentuk bentang alam karst. Dengan demikian karstifikasi tidak hanya terjadi dipermukaan saja tetapi juga dibawah permukaan tanah, sebelum akhirnya membentuk sistem pergoaan. Selain itu, pelarutan selama ratusan tahun menghasilkan lorong-lorong goa dan berbagai hiasan atau ornamen goa, seperti stalactit, stalagmit, coloumn dan sebagainya.
Kawasan Geopark Gunung Sewu memiliki 33 situs kawasan warisan bumi yang terdiri dari 30 situs geologi dan 3 situs non geologi. Gunung api purba formasi Nglanggeran, endapan laut tua formasi Sambipitu Kabupaten Gunung Kidul, dan Goa Gong Kabupaten Pacitan merupakan situs unggulan geologi. Disamping itu ada situs Lembah Kering Purba Giritontro Kabupaten Wonogiri,  kompleks goa di Kecamatan Pracimantoro, dan Pantai Klayar Kabupaten Pacitan.
Karst Gunung Sewu adalah tipe karst tropis yang bercirikan bukit-bukit setengah bola, dan berlereng cembung, serupa yang terdapat di negara Jamaika, negara Filiphina dan Dalmatia di negara Kroasia.
Dibawah permukaan tanah kawasan Geopark Gunungsewu berkembang sistem goa, baik goa horisontal, goa vertikal atau gabungan keduanya. Terdapat lebih dari 400 goa telah terpetakan, dengan sebagian goa sudah dikelola masyarakat lokal dengan basis eko wisata.
Sistem goa vertikal atau luweng juga banyak dijumpai di kawasan Geopark Gunungsewu. Luweng Grubug Kabupaten Gunung Kidul sedalam lebih dari 90 meter dan Luweng Jaran Kabupaten Pacitan sedalam lebih dari 20 km menjadi sistem pergoaan terdalam dan terpanjang di pulau Jawa. Di dalam luweng ini banyak dijumpai sungai bawah tanah yang mengalirkan air sepanjang musim. Sedangkan goa-goa ditebing pantai selatan banyak menjadi habitat alami burung walet dan kelelawar.
Pemanfaatan Geo Park Gunung Sewu
Dengan segala keunikan, keindahan alam, dan keanekaragaman seni budaya masyarakatnya,  kawasan Gunung Sewu memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Pengembangan potensi Geo Park Gunung Sewu bertujuan untuk melestarikan alam kawasan karst, sumber penelitian dan ilmu pengetahuan, konservasi, disamping untuk mengembangkan sisi perekonomian masyarakat yang hidup dikawasan Gunung Sewu.

Thursday, October 1, 2015

BATIK WONOGIREN KARYA SENI MOTIF BATIK DARI KABUPATEN WONOGIRI


Proses pembuatan Batik Wonogiren di salah satu sentra pengrajin di Kecamatan Tirtomoyo

 
Batik adalah salah satu warisan budaya asli bangsa Indonesia, yang telah diakui oleh Unesco sebagai Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Non bendawi sejak tahun 2009. Batik bagi bangsa Indonesia, telah dikenal luas dan menjadi salah satu bagian budaya yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Batik nusantara memiliki ciri khas tersendiri yang sesuai dengan karakter budaya suku bangsa yang ada di Indonesia.

Di Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah juga memiliki batik yang bersumber dari kearifan budaya lokal. Adalah batik Wonogiren yang ber karakter khas pada motif dan corak kain batik. Ciri khas ini ditandai pada corak  pecah-pecah pada kain batik yang dihasilkan.
Batik Wonogiren telah menjadi mata pencaharian bagi sebagian masyarakat  Kabupaten Wonogiri. Seperti yang dilakukan oleh  Daryono, sebagai salah satu pelaku usaha kecil produsen batik wonogiren yang ada di Kecamatan Tirtomoyo.

Dengan berbekal pengetahuan dan teknik pembuatan batik pada saat menjadi karyawan pabrik batik di kota solo, sejak tahun 2010 ia memberanikan diri untuk memulai usaha pembuatan batik wonogiren. Dengan modal yang sangat terbatas dan niat yang kuat akhirnya mampu menjadikan usaha pembuatan batik wonogiren berkembang hingga sekarang.

Pembuatan batik wonogiren dimulai dari pemilihan kain berbahan kapas, kain katun,  serat nanas, kain paris, dan bisa juga dengan kain sutera. Selanjutnya kain ini akan dipersiapkan untuk pembuatan batik sesuai dengan teknik pembuatan. Ada tiga teknik pembuatan Batik Wonogiren yaitu, batik tulis, batik cap, dan batik cap kombinasi.

Batik tulis merupakan teknik pembuatan batik yang paling kuno dan ekslusif. Yaitu dengan menorehkan langsung pada kain menggunakan alat membatik atau dikenal dengan sebutan canting.
Batik cap merupakan teknik pembuatan dengan menggunakan media cap motif. Cap ini berasal dari bahan tembaga yang sudah membentuk motif batik tertentu.
Batik cap kombinasi merupakan teknik pembuatan batik wonogiren dengan menggabungkan antara teknik batik cap dan teknik batik tulis.

Setelah proses pemberian pola motif selesai, akan dilanjutkan dengan pewarnaan motif yang telah dibuat. Pemberian warna ini untuk membentuk motif batik semakin beragam dan lebih dinamis.
Proses  selanjutnya adalah  menutup kain dengan menggunakan cairan lilin atau malam. Pada proses inilah merupakan kunci dan ciri khas batik wonogiren. Yaitu dengan meremas kain sehingga membentuk pola pecah-pecah pada kain. Pola pecah-pecah ini akan tampak setelah proses pencelupan warna kain.

Setelah semua pola dan motif pecah-pecah sudah di peroleh, maka proses selanjutnya adalah pencelupan warna. Pewarnaan ini disesuaikan dengan pesanan atau desain yang diinginkan. Dengan pengaruh budaya luar yang masuk di nusantara, warna batik saat ini semakin beragam dan menarik, tidak lagi didominasi oleh warna coklat ataupun gelap.  
Proses selanjutnya adalah pelorotan malam. Proses ini untuk melarutkan lilin atau malam yang menempel pada kain batik. Kegiatan ini dilakukan dalam bak berisi air yang mendidih sampai lilin yang menempel larut seluruhnya.Semua proses pembuatan batik diakhiri dengan penjemuran kain batik. Proses ini memerlukan bantuan sinar matahari yang cukup hingga kain kering.

Batik wonogiren telah dikembangkan dalam produk fashion yang modern, mulai dari kemeja, gaun, hingga busana casual yang trendy. Aneka produk batik wonogiren menjadikan nilai tambah semakin meningkat. 

Batik yang menjadi ciri khas budaya Kabupaten Wonogiri mampu menjadi salah satu komponen pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan ini diwujudkan melalui sentra – sentra pembuatan batik wonogiren yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Wonogiri.