Tuesday, March 22, 2016

Logo Harijadi Wonogiri 2016

Logo Harijadi Wonogiri Tahun 2016 untuk materi publikasi spanduk, baliho, brosur dan lain-lain. Monggo bisa didownload....

Wednesday, March 2, 2016

VISI DAN MISI BUPATI WONOGIRI JOKO SUTOPO DAN WAKIL BUPATI WONOGIRI EDY SANTOSA, SH PERIODE 2016-2021

Prosesi Penyematan Tanda Pangkat Dan Jabatan Joko Sutopo Sebagai Bupati Wonogiri Dan Edy Santosa Sebagai Wakil Bupati Wonogiri, Semarang (17/2).


VISI : 
MemBangun Wonogiri SUKSES, Beriman, Berbudaya, Berkeadilan, Berdaya Saing dan Demokratis

PENJABARAN VISI
Dalam rangka membangun dan mengelola pemerintahan di kabupaten Wonogiri di perlukan konsep pengelolaan dan manejemen pemerintahan yang baik, SUKSES” dalam hal ini adalah sebuah motto Kerja Kabupaten Wonogiri yang telah ada sejak tahun 1986.  Sukses bukan sekedar simbol atau Jargon Wonogiri tetapi lebih pada konsep manajemen pengelolaaan dan membangun Wonogiri dengan pengertian sebagai berikut:
  1. S singkatan dari Stabilitas, memiliki makna bahwa dalam membangun Wonogiri stabilitas merupakan salah satu prasyarat mutlak dalam melaksanakan pemerintahan, iklim yang kondusif baik di pemerintahan maupun di masyarakat adalah salah satu hal yang wajib ada;
  2. U singkatan dari Undang-undang, mengandung arti bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan, melaksanakan pembagunan peraturan Per-Undang-undangan merupakan pijakan yuridis yang tak bisa di tawar;
  3. K singkatan dari Koordinasi, mengandung arti bahwa jika jalinan koordinasi dilakukan baik ke atas dalam hal ini pemerintah pusat dan provinsi, koordinasi kesamping dalam hal ini ke lembaga legislatif ataupun forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) maupun koordinasi kebawah dalam hal ini kepada perangkat daerah dan masyarakat. Dari koordinasi ke atas diharapkan ada sinkronisasi program sekaligus harapan bisa mendatangkan bantuan yang lebih banyak dari pemerintah pusat untuk pembangunan Wonogiri, dari koordinasi kesamping diharapkan ada harmonisasi dan keselarasan dalam membuat kebijakan dengan lembaga legislatif dan dengan koordinasi kebawah akan tercipta partisipasi masyarakat dalam sumbang sihnya untuk kemajuan Wonogiri;
  4. S singkatan dari Sasaran, memiliki arti bahwa perencanaan dalam hal apapun harus jelas dan tepat sasaran sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang telah di sepakati bersama dengan lembaga legislatif;
  5. E singkatan dari Evaluasi; mengandung makna bahwa setiap kegiatan dan program yang telah di laksanakan harus selalu di lakukan evaluasi guna peningkatan kualitas maupun kuantitas pada program tersebut. Evaluasi ini nantinya akan memerlukan sebuah keterbukaan terhadap kritik, kemauan untuk di kritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri;
  6. S singkatan dari Semangat Juang, mengandung arti bahwa tanpa adanya semangat juang dari dalam diri kita maupun seluruh elemen penyelenggara pemerintahan mustahil program apapun tidak akan berjalan dengan baik. Sebagai pembawa amanah rakyat Wonogiri akan menempatkan diri sebagai motivator sekaligus obor guna membarakan semangat juang dalam membangun Wonogiri;
  7. BERIMAN, artinya bahwa masyarakat Wonogiri harus berTuhan dan memiliki keyakinan masing-masing sesuai dengan Agama yang di anut. Pemerintah Kabupaten Wonogiri akan mendorong semua kegiatan keagamaan, yang Islam laksanakan gerakan Wonogiri mengaji, yang Kristen, Katolik, Budha , Hindu, Konghucu dan aliran kepercayaan silahkan untuk menggagas gerakan, dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri berkewajiban mendorongnya agar masyarakat Wonogiri Religius;
  8. BERBUDAYA, artinya bahwa mengembangkan budaya yang pernah ada dan tumbuh berkembang di masyarakat Wonogiri seperti tradisi dan adat di masing-masing dusun di wilayah Wonogiri, termasuk melestarikan budaya ketimuran saling menghormati menghargai dan menjunjung tinggi etika sopan santun di masyarakat;
  9. BERKEADILAN, artinya bahwa dalam bidang pembangunan, keagamaan dan lain- lain Pemerintah Kabupaten Wonogiri akan berbuat seadil-adilnya bagi terciptanya kemakmuran bersama;
  10. BERDAYA SAING, artinya bahwa Wonogiri baik dari sisi pemerintahanya, orang- orangnya, potensi-potensinya harus memiliki daya saing yang tinggi dan sehat sehingga saling di perhitungkan baik dalam konteks pemerintahan maupun kualitas sumber daya manusianya yang menyangkut tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat;
  11. DEMOKRATIS, memiliki makna bahwa dalam penyelenggaran umum pemerintahan di daerah sesuai dengan kewenangan dan urusan yang di miliki daerah harus dilaksanakan secara demokratis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, nilai-nilai demokrasi dan menjunjung tinggi hak dan kewajiban masyarakat.

MISI
  1. Mengelola pemerintahan dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih , efektif dan demokratis terpercaya yang meliputi unsur manajemen keuangan, manjemen pelayanan dan manajemen hukum dan pengawasan dengan semboyan SUKSES sebagai pola managerial yang memiliki makna sebagaimana penjelasan singkat dalam Visi;
  2.  Meningkatkan kualitas hidup manusia Wonogiri melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan Program Wonogiri Pintar, peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program Wonogiri Kerja Wonogiri Sejahtera, peningkatan kualitas kesehatan dengan program Wonogiri Sehat serta Wonogiri beriman sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing mengedepankan sikap toleransi antar umat;
  3. Membangun dan memberdayakan Wonogiri dari pinggiran dengan memperkuat prioritas pembangunan di desa;
  4. Meningkatkan produktifitas rakyat Wonogiri dan daya saing di segala bidang sehingga Wonogiri dapat maju dan bangkit bersama daerah-daerah lain;
  5. Mengembangkan dan melestarikan adat dan budaya serta tradisi di masyarakat Wonogiri;
  6. Pemerataan pembangunan yang berkeadilan di segala bidang;
  7. Mengembangkan seluruh potensi-potensi didalam jiwa dan raganya Wonogiri untuk kemaslahatan rakyat Wonogiri.
AGENDA PROGRAM KERJA UNGGULAN
  1. Percepatan pembangunan sarana mobilitas ekonomi masyarakat, infrastruktur jalan dan jembatan sebagai masyarakat serta perbaikan fasilitas umum;
  2. Subsida dan bantuan sarana produksi pertanian bagi petani/ kelompok tani serta membangun infra struktur pertanian untuk menyokong hasil produksi pertanian;
  3. Beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa berprestasi setiap tahun anggaran;
  4. Peningkatan kesejahteraan kepala desa dan perangkat desa untuk mensukseskan pelaksanaan Undang-Undang Desa;
  5. Bantuan Hibah untuk koperasi RT diwilayah Kabupaten Wonogiri;
  6. Fasilitasi Perjuangan status dan kesejahteraan bagi para tenaga tetap dan tidak tetap maupun latihan kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Wonogiri;
  7. Fasilitasi kegiatan pemuda dan Karang Taruna di wilayah Kabupaten Wonogiri;
  8. Mengupayakan tunjangan daerah bagi PNS di wilayah Wonogiri sesuai kemampuan keuangan daerah;
  9. Fasilitasi dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran;
  10. Tanggap bencana dan hadir untuk melindungi segenap warga Wonogiri.

ARAH DAN TAHAPAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN
Pembangunan Kabupaten Wonogiri merupakan bagian integral dari pembangunan provinsi Jawa Tengah untuk itu maka tujuan pembagunan jangka panjang Kabupaten Wonogiri adalah: Mewujudkan Daerah Dan Masyarakat Wonogiri Yang Sejahtera , Bermartabat Dan Berdaya Saing Sebagai Landasan Bagi Tahap Pembangunan Berikutnya Menuju Masyarakat Adil Dan Makmur Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila Dan Undang- Undang Dasar Negra Republik Indonesia '1945.
Sebagai ukuran terwujudnya Wonogiri yang sukses, sejahtera, demokratis, berdaya saing maka pembangunan jangka panjang Kabupaten Wonogiri diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok sebagai berikut :
  1. Terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas, bermartabat dan berdaya saing.
  2. Terwujudnya ekonomi kerakyatan berbasis potensi daerah dan IPTEK serta mampu bersaing dipasar global.
  3. Terwujudnya pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan bekelanjutan.
  4. Terwujudnya ketercukupan dan pelayanan sarana prasarana yang berkwalitas guna menunjang pengembangan wilayah.
  5. Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dengan menjunjung tinggi supremasi hukum.

Thursday, October 22, 2015

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI “KI CUROCONO DAN KI JEBUK” cerita rakyat Paranggupito



 
Makam Ki Curocono Di Desa Ketos Kecamatan Paranggupito

Pada jaman dahulu saat kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan sekitar abad 15, seluruh pembesar kerajaan dan para punggawa ada yang mengelana diseluruh pelosok Jawa. Salah satu punggawa  kerajaan Majapahit bernama Ki Curocono akhirnya sampai di pesisir selatan tepatnya di karangwungu Dusun parang Desa Paranggupito Kecamatan Paranggupito.
Karena bekas punggawa kerajaan, Ki Curocono memiliki beberapa kesaktian dan kekuatan supranatural. Kesaktian yang paling terkenal saat itu adalah memindahkan air dengan menggunakan keranjang rumput yang terbuat dari bambu dari telaga Dusun Gedong Dusun Sambi ke telaga Kedhokan. Padahal keranjang tempat rumput ini bagian bawahnya berlubang karena hanya terbuat dari bambu, yang mustahil bisa diisi air karena air pasti akan keluar melalui celah yang ada. Akan tetapi berkat kesaktian Ki Curocono air tersebut tidak bisa menerobos celah sehingga bisa untuk membawa air hingga jarak yang jauh. Air yang ada di Telaga Kedhokan sampai sekarang masih dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kesaktian lainnya adalah mampu mendatangkan hujan apabila musim kemarau dirasa memberatkan warga untuk mendapatkan air bersih. Dengan berbagai ritual khusus, Ki Curocono sanggup mendatangkan hujan dengan sangat deras.
Setelah menetap dan berbaur dengan masyarakat sekitar, Ki Curocono akhirnya semakin dekat dengan masyarakat. Berkat kesaktiannya pula, ia sering didatangi oleh warga untuk dijadikan murid  agar mendapatkan ilmu kebatinan dan kanuragan.
Semakin lama, jumlah warga yang menjadi murid semakin banyak, dan akhirnya Ki Curocono mendirikan perguruan “ Kejawen Kanoragan”.
Salah satu murid yang terkenal sangat rajin dan patuh adalah Ki Jebuk. Berkat kegigihan dan keuletan dalam mempelajari ilmu dari gurunya, Ki Jebuk akhirnya memiliki beberapa kesaktian yang bahkan bisa mengungguli gurunya.
Mendengar desas-desus yang menyebutkan kemampuan Ki Jebuk telah menyamai diri Ki Curocono maka sang guru ini dalam hati merasa iri. Ki Curocono akhirnya menyelediki sendiri kemampuan muridnya.
Dipanggilah Ki Jebuk untuk datang di suatu tempat yang diberi nama ladang Gelaran. Disuruhnya Ki Jebuk untuk memetik kelapa muda untuk dinikmati bersama-sama.
Dengan bekal kesaktiannya, Ki Jebuk menjentikan jarinya pada sebuah pohon kelapa, dan dalam sekejab saja pohon tersebut meliuk ke bawah seolah-olah mengarah ke Ki Jebuk untuk dipetik buahnya. Dan dengan mudah Ki Jebuk memetik buah kelapa dan menyerahkan kepada gurunya, Ki Curocono.
Melihat kesaktian muridnya ini, Ki Curocono bukannya bangga malah semakin membuat iri hati. Dalam pikirannya bagaimana cara menyingkirkan muridnya. Maka ketika melihat sang murid menengadah wajahnya untuk meninum air dari buah kelapa, Ki Curocono sekelibat menghunus senjata dan menebas leher muridnya. Berkali – kali menebas akan tetapi senjata yang digunakan tidak mampu melukai muridnya.
Akhirnya kejadian ini membuat muridnya, Ki Jebuk bersujud dan bersimpuh dihadapan gurunya karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena sangat menghormati sang guru, murid yang sakti inipun menceritakan rahasia kepada gurunya jika ingin menghendaki dirinya bisa mati.
Dengan penuh nafsu jika nanti tersaingi muridnya, Ki Curocono akhirnya memenggal juga kepala muridnya. Namun peristiwa ajaib kembali terjadi, setelah terpisah dari badannya, kepala Ki Jebuk kembali menyatu dengan badannya, sehingga hidup lagi. Dan terus berulang sampai beberapa kali.
Dengan kegigihan dan nafsu yang membara akhirnya, Ki Curocono berhasil menewaskan Ki Jebuk.  Setelah tewas, jasad badan Ki Jebuk dimakamkan di Gelaran, sedangkan kepalanya dimakamkan di tanah angker diberi nama Pok Simpen yang jaraknya setengah kilometer dari Gelaran.
Sampai pada waktunya, Ki Curocono akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Gedong Dusun Sambi Desa Ketos Kecamatan Paranggupito.
Berkat kesaktian dalam mendatangkan hujan inilah, tanah di sekitar makam Ki Curocono jaman dahulu digunakan sebagai tempat menggelar ritual mendatangkan hujan. Ritual ini disebut sebagai “Udan Dawet” karena ada prosesi memercikkan dawet atau minuman santan dan gula kelapa di sekitar tanah makam. Ritual yang unik ini sudah jarang digelar karena kemajuan jaman.
Narasumber cerita : Mbah Martosuparno, diceritakan kembali oleh Sucipto, S.Pd M.Pd (Pelestari Budaya Kecamatan Paranggupito).

Monday, October 19, 2015

SERI CERITA RAKYAT WONOGIRI “LEGENDA LUWENG BORAMPO” Cerita Rakyat Paranggupito

Luweng Borampo Paranggupito




Mbah Glemboh seorang petani yang rajin bekerja hingga lupa waktu. Bahkan karena kecapekan, Mbah Glemboh sering tidak pulang dan tidur di ladang. Meski demikian, istrinya tetap setia dan tiap hari mengirim makanan untuknya. Karena ladang yang luas dan berbukit, sang istri kadang-kadang tidak bisa menemui Mbah Glemboh, hanya menyuruhnya untuk meletakkan makanan di gubug di ladang. Saat mengirim makanan, isterinya kadang tidak bertemu, hanya mendengar suaranya untuk meletakkan makanan di gubug.
Pada suatu hari istri Mbah Glemboh penasaran. Setelah meletakkan makanan di gubug, ia mengintip di balik sebuah batu sambil menunggu suaminya menyantap makanan. Setelah sekian lama menunggu alangkah terkejutnya sang isteri karena melihat suaminya yang menghampiri makanan dengan wajah yang mengerikan.
Ternyata Mbah Glemboh telah berubah menjadi raksasa dengan taring yang sangat panjang mengerikan. Karena ketakutan, isteri Mbah Glemboh lari pulang dan melaporkan apa yang dilihatnya kepada warga desa. Mendengar laporan tersebut, akhirnya seluruh warga sepakat untuk menangkap Mbah Glemboh. Warga dengan senjata seadanya berangkat ke Hutan Brenggolo untuk menangkap Mbah Glemboh. Sesampainya di hutan Brenggolo warga mengepung dan mengejar Mbah Glemboh. Karena terdesak, dan tidak mau melukai warga desa, Mbah Glemboh lari dan dengan kesaktiannya dan terbang ke arah barat Hutan Brenggolo.
Warga desa tidak mau menyerah dan terus mengejar Mbah Glemboh. Akhirnya Mbah Glemboh hinggap di pohon Winong yang terletak di sebelah barat Dusun Gendayakan. Warga desa pun mengepung dan menyerang Mbah Glemboh. Merasa terdesak, Mbah Glemboh terbang ke selatan dan jatuh di Ladang Kedokan. Warga desa terus mengejar dan Mbah Glemboh lari dan memanjat sebatang pohon kelapa kemudian mengambil pelepah daun kelapa. Pelepah daun kelapa tersebut digunakan untuk terbang ke arah barat.
Warga desa terus mengejar dan ahirnya Mbah Glemboh jatuh di Hutan Larangan. Disebut Hutan Larangan, karena hutan tersebut angker dan jarang dimasuki orang. Tempat tersebut adalah luweng atau goa yang sangat dalam.
Di dekat luweng itulah Mbah Glemboh jatuh beserta pelepah daun kelapa yang digunakannya untuk terbang. Warga yang mengetahui Mbah Glemboh jatuh tersebut semakin semangat untuk mengejar dan siap untuk menyerangnya. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan ternyata Mbah Glemboh yang telah jatuh di pinggir luweng berubah menjadi sebongkah batu. Warga desa yang heran dan bingung akhirnya sepakat untuk membuang batu jelmaan Mbah Glemboh ke dalam luweng.
Beramai ramai warga mengangkat dan melempar batu tersebut ke dalam luweng apa yang terjadi? Batu yang di lempar tidak jatuh hingga ke dasar tetapi berada di tengah tengah luweng. Warga desa tidak bisa berbuat banyak, akhirnya pulang dan menganggap  Mbah Glemboh telah mati. Dan untuk mengenang Mbah Glemboh, luweng tersebut disebut Borampo (dari kata mabur dan ampuh, artinya terbang dan sakti). Hingga sekarang dikenal warga sebagai Borampo.
Luweng Borampo saat ini menjadi tempat tirakat dan ritual bagi mereka yang tengah bermasalah dengan hukum. Dan banyak yang pada akhirnya lolos dari jeratan hukum.
Saat ini, Hutan Brenggolo telah berubah telah berubah Menjadi areal ladang penduduk tanpa mengalami perubahan nama. Sedangkan ladang Kedokan tempat jatuhnya Mbah Glemboh terlihat batuan yang berupa tanah yang cekung seperti bekas kejatuhan benda yang besar dan keras. Namun Pohon Winong tempat hinggap Mbah Glemboh sudah tidak ada karena tumbang dan lapuk dimakan usia.

Monday, October 12, 2015

Mengenal Lebih Dekat Museum Karst Indonesia Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri






Museum Karst Indonesia


Museum Karst Indonesia merupakan wahana tempat memamerkan segala hal tentang batuan dan kawasan karst mulai dari sejarah geologi, kehidupan pra sejarah, hingga kehidupan kawasan karst di era modern.
Lokasi Museum Karst Indonesia terletak di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Jarak dari Kota Wonogiri kurang lebih 45 km dari Kota Wonogiri. Akses menuju lokasi sangat memadai dengan jalan yang bisa dilalui dengan kendaraan bus lengkap dengan area parkir yang luas.

Ide pembangunan Museum Karst Indonesia mengemuka saat diselenggarakan Lokakarya Nasional Pengelolaan Kawasan Karst di Kabupaten Wonogiri pada tanggal 4-5 Agustus 2004 yang digelar oleh Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral.
Kawasan karst Gunung Sewu yang meliputi tiga Kabupaten yaitu Gunung Kidul, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Wonogiri serta kawasan karst Gombong Selatan di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai kawasan ekokarst oleh Presiden Republik Indonesia.

Berdasarkan kajian dan perencanaan oleh Pemerintah pusat melalui Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemprov Jateng dan Pemkab Wonogiri bekerja sama untuk membangun Museum Karst Indonesia. Museum ini diresmikan oleh Presiden RI saat dijabat Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 30 Juni 2009. Museum Karst Indonesia mulai menerima kunjungan umum pada tahun 2010 dengan hari buka mulai senin-minggu dan tutup pada hari jumat.

Museum Karst Indonesia memiliki bangunan mirip piramida dari negara mesir, dengan tiga lantai yaitu Lantai bawah dengan tema “karst untu kehidupan”, Lantai 2 dengan tema “Karst Untuk Pengetahuan” dan lantai atas untuk ruang pertemuan dan pemutaran film tentang karst.

Karst Untuk Kehidupan berisi diorama sejarah bumi dengan kehidupan masa lalu terutama di kawasan karst hingga pemanfaatan batuan karst untuk industri modern. Diorama pertama berupa replika goa yang dilengkapi stalagmit dan stalagtit serta manusia pra sejarah. Kemudian ada gambaran lengkap tentang air dan tanah kawasan karst, keragaman flora dan fauna, sosial budaya masa lalu dan kini, manusia prasejarah, replika temuan tulang dan tengkorak manusia masa lalu, kawasan karst di Kabupaten Wonogiri, kerarifan lokal kawasan karst, tambang batuan gamping, dan konservasi kawasan karst.

Karst Untuk Pengetahuan berisi peta sebaran karst dunia, proses terjadinya bantuan gamping, terjadinya karst, batuan kalsit dan dolomit, tipe dan kawasan karst di Indonesia, contoh bantuan karst, dan maket-maket tentang goa, dan diorama berupa audio visual.


Dikawasan Museum Karst Indonesia terdapat beberapa situs goa dan luweng yang bisa dinikmati secara langsung. Ada tujuh goa dan luweng yaitu Goa Tembus, Goa Gilap, Goa Potro – Bunder, Goa Mrica, Goa Sodong,  dan Luweng Sapen. Selain itu, juga terdapat Pura Puncak Jagad Spiritual yang berada di bukit sebelah kiri Museum Karst. Pure ini dibangun sebagai tempat untuk upacara piodalan umat hindu dari Bali yang setiap bulan Juni berkunjung di Museum Karst.

Dengan kelengkapan yang ada di Museum Karst Indonesia maka layak menjadi salah satu destinasi wisata edukasi bagi keluarga. Ayo datang ke Museum Karst Indonesia.