Jumat, 15 Agustus 2014

SAMBUTAN BUPATI WONOGIRI PADA UPACARA PERINGATAN DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA TANGGAL 17 AGUSTUS 2014

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Yang saya hormati tamu undangan, Jajaran Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Dunia Usaha, Perguruan Tinggi, seluruh komponen masyarakat Kabupaten Wonogiri dan peserta upacara yang berbahagia,

           Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena pada tanggal 17 Agustus 2014 ini, kita bersama masih diberikan kesehatan, kesempatan dan kekuatan untuk melaksanakan Upacara Memperingati Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Yang Ke-69 Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Bulan yang penuh makna bagi bangsa Indonesia dalam mengarungi perjalanan sejarah, yang dipenuhi semangat perjuangan untuk membangun masyarakat yang sejahtera diawali dengan kebebasan dari cengkeraman bangsa penjajah. 
Untuk itu, sambutlah pekik salam perjuangan kita dengan gegap gempita,. 
MERDEKA ! MERDEKA ! MERDEKA ! 

Hadirin, peserta upacara yang saya cintai dan saya banggakan; 
       Setiap kita memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, maka dalam kesadaran jiwa kita yang tinggi, akan selalu terkenang dalam ingatan kita tentang sejarah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa yang rela berjuang bahkan sampai mengorbankan jiwa, raga, harta dan benda, semata-mata demi merebut dan mempertahankan setiap jengkal bumi pertiwi dari tangan penjajah untuk mewujudkan kemerdekaan. Aroma kecintaan terhadap tanah air dan bangsa akan sangat terasa di hati kita, ketika di setiap bulan Agustus hiasan merah putih berkibar di lingkungan kita masing-masing. Keriuhan peringatan yang khas di setiap daerah adalah wujud kebanggaan setiap warga masyarakat akan arti kemerdekaan tersebut. 
      Kini, 69 tahun sudah usia kemerdekaan kita hirup dan nikmati bersama. Masa yang penuh penderitaan perjuangan merebut kemerdekaan telah kita lewati, dan setapak demi setapak kita telah berhasil merajut tata kehidupan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekuatan pemersatu bangsa yang dinaungi nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia, sehingga kehidupan terasa lebih indah, nyaman, selaras, serasi dan seimbang. Kesulitan demi kesulitan, permasalahan, hambatan, bahkan gangguan berhasil kita lewati. 
       Dan pada saat ini, yang masih sangat aktual bagi seluruh bangsa Indonesia adalah hiruk-pikuk pesta demokrasi pemilihan anggota legislatif dan juga pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja kita lalui. Kondisi bangsa yang telah terbangun dalam kerukunan, pada saat ini tengah diuji, karena setiap perbedaan aspirasi berpotensi memecah belah persatuan. Pada saat inilah kedewasaan suatu bangsa yang telah berusia 69 tahun diuji untuk mampu memaknai bahwa setiap perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah belah. 
      Sangatlah tepat jika pada thema peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Republik Indonesia adalah “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Makin Maju dan Sejahtera”. Siapapun yang terpilih menjadi nahkoda bahtera bangsa kita untuk lima tahun ke depan, adalah putra terbaik bangsa yang layak untuk kita dukung. Menuju Indonesia yang lebih baik, lebih hebat dan berdaulat dalam kancah pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Sudah saatnya kita tinggalkan budaya memaksakan kehendak, saling curiga, saling tidak percaya, saling mencari kesalahan, bahkan saling menjatuhkan untuk mendapatkan sesuatu atau kekuasaan. Itulah fenomena nyata yang kita hadapi dan jalani sekarang ini, yang tanpa kita sadari bahwa itu semua menjadi potensi pemecah persatuan dan kesatuan. 
       Oleh karena itu, momentum memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia yang kita cintai ini, saya mengajak seluruh warga Kabupaten Wonogiri untuk sekuat tenaga mengesampingkan ego pribadi, menjadi kekuatan kebersamaan tanpa terpisah sekat untuk membangun khususnya Kabupaten Wonogiri dan Bangsa Indonesia secara umum. 

Peserta upacara dan warga Kabupaten Wonogiri yang saya cintai dan banggakan; 
        Hanya dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih, tulus dan ikhlas, maka setiap tujuan mulia dan memberi maslahat akan dapat kita wujudkan bersama. Mari kita wariskan kepada generasi penerus kita rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, generasi yang berkarakter positif, memiliki sopan santun, toleran, suka bekerja keras dan bergotong royong. Sikap yang sangat relevan dengan nilai-nilai kejuangan pahlawan bangsa dan Pancasila. Tanamkan kepada generasi penerus kita untuk bangga dengan sejarah bangsa, dan berkaca kepada nilai kejuangan para pendahulu bangsa sebagai sikap yang sangat mulia, sebagai motivasi untuk terus bergerak maju sesuai dengan kondisi kekinian.    
      Dalam konteks kebangsaan, setiap pemimpin berkewajiban untuk meletakkan landasan yang kokoh dan kuat untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera, mandiri, berkemampuan dan berdaya saing tinggi. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menyiapkan infrastruktur pendukungnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinkronisasi dan kebersamaan kita, bekerja keras, saling bahu membahu untuk mewujudkannya. 
      Akhirnya, dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia, di tengah tekad dan semangat kita untuk berjuang dan mengabdi kepada bangsa dan negara, tidak lupa kita memohon kekuatan dan bimbingan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan pengayoman kepada kita semua, dalam melanjutkan pembangunan mengisi kemerdekaan menuju masyarakat yang semakin sejahtera, mandiri, berkemampuan, dan berdaya saing tinggi. 

Sekian dan terima kasih. 
Wasalamu ‘alaikum wr.wb.

BUPATI WONOGIRI 

H. DANAR RAHMANTO

Jumat, 28 Maret 2014

Logo Harijadi Ke-273 Kabupaten Wonogiri Tahun 2014

Logo Harijadi Kabupaten Wonogiri Tahun 2014. Dapat didownload untuk keperluan publikasi, pembuatan spanduk, banner, baliho, leaflet, sticker, dll. Monggo silahkan.....

Senin, 11 November 2013

Buku Saku Sosialisasi Bahaya Merokok Bagi Kalangan Pelajar

Berikut adalah Buku Saku Sosialisasi Bahaya Merokok Bagi Kalangan Pelajar yang berisi tentang seluk beluk rokok mulai dari sejarah dan pengaruhnya bagi kesehatan manusia. Buku ini dapat digunakan sebagai tambahan materi di Sekolah untuk kegiatan Pramuka, Osis, dan bagi pelajar yang ingin mengetahui bahaya merokok. berikut adalah link untuk download file dalam bentuk pdf https://drive.google.com/file/d/0ByBbnh-MildJa296ZVY4UmdXYTg/edit?usp=sharing

Senin, 19 Agustus 2013

PESAN KEMERDEKAAN BUPATI WONOGIRI H. DANAR RAHMANTO DALAM RANGKA PERINGATAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE-68 TAHUN 2013

PESAN KEMERDEKAAN PERINGATAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE-68
BUPATI WONOGIRI H.DANAR RAHMANTO
WONOGIRI, 17 AGUSTUS 2013


 Hadirin sekalian,
Pada saat ini saya secara pribadi mengajak kepada kita sekalian dan seluruh rakyat Wonogiri agar kita bisa memaknai arti sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan adalah sebuah jembatan, dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah jembatan emas. Namun saudaraku, jembatan emas bukan tujuan akhir dari perjuangan kita. Yang terpenting adalah, diseberang jembatan ada dua jalan yang berbeda dan kita wajib memasukinya yang mana yang menjadi pilihan kita. Yang satu jalan, menjadi jalan yang sama rata dan sama rasa, yang satu jalan, menjadi jalan yang sama ratap dan sama tangis.
Hadirin sekalian.
Pejuang kemerdekaan telah mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Sungguh sedih ketika kita yang berada di tengah-tengah kemerdekaan ini tidak bisa memasuki pintu gerbang dengan sebaik-baiknya. Kita masih terjebak di dalam euphoria kemerdekaan, berpesta pora di dalam kemerdekaan. Banyak diantara kita, warga bangsa kita, para elitenya, penyelenggara negara, politisi  dan rakyatnya dan semuanya masih banyak yang sibuk dengan euphoria masing. masing.
Sungguh sedih ketika para pahlawan melihat kita dengan berbagai macam celoteh diantara anak bangsa satu dan yang lainnya saling mencaci maki, satu dan yang lainnya saling menjegal, tidak ada rasa kebersamaan sebagai  anak bangsa. Hal ini benar menyedihkan ketika para pahlawan yang pendahulu kita, melihat kita semua, melihat tiada henti berpesta pora di dalam era kemerdekaan. 
Hadirin sekalian
Pesan the founding fathers Bung Karno, ketika itu berpesan kepada kita bahwa, “Perjuanganku amatlah mudah karena aku melawan penjajah, tetapi perjuangan kalian amatlah berat karena kalian melawan bangsamu sendiri.”
Kita lihat potret di tengah-tengah kehidupan kita. Di tengah-tengah Kabupaten yang kita cintai yang bernama Wonogiri. Banyak diantara kita yang belum menempatkan pada porosnya masing-masing. Semua fihak mengaku benar, banyak orang yang merasa menjadi seorang ksatria, banyak orang yang merasa membela kepentingan rakyat. Tapi hadirin sekalian siapa sesungguhnya yang menjadi ksatria sejati ? Siapa sesungguhnya yang menjadi pembela rakyat yang tulus?
Para kstaria sejati, pesan almarhum Bung Karno, “Tidak pernah bertanya berapa yang bisa saya peroleh dengan mengabdi kepada bangsa dan negara ini, tetapi berapa yang bisa saya berikan kepada bangsa dan negara ini.”
Saat ini sungguh keadaan yang mendera bangsa tidak kunjung usai karena tingkah kita yang tidak bisa bersyukur atas kemerdekaan yang telah diberikan kepada kita. Tidak untuk kita bersenang-senang. Ini adalah amanat yang harus kita teruskan kepada anak cucu kita. Kita bertugas untuk memayu hayuning bawono, menuju kepada kesejahteraan bangsa .
Carut marut terjadi di negeri, pimpinan saling bertikai, rakyat tidak percaya kepada pimpinan, disintegrasi mengancam dimana-mana, kekerasan terjadi dimana-mana, pembunuhan terjadi dimana-mana, perang antar suku, tawuran antar pelajar, seakan-akan kita bukan sebagai bangsa yang beradab, bukan bangsa timur yang memiliki jatidiri yg luhur.
Saudaraku sekalian, seluruh rakyat Wonogiri
Kami mengajak, saatnya kita kembali kepada kittah kita, hilangkan ego kita masing-masing, beranilah mengoreksi diri kita. Tetapi saudaraku, dalam kesempatan yang baik ini, bahwa carut marutnya keadaan negeri kita memang, ini ada bangsa yang lain yang menginginkan bangsa kita tidak besar. Mereka menginginkan bangsa kita tercabik-cabik, menjadi kekuatan yang terpecah-pecah. Mereka beralaskan Konvensi Jenewa, Hak Asasi Manusia, mereka memberondong modernisasi, mereka memberondong teknologi, mereka memberondong dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dan anehnya, bangsa kita seakan merasa bangsa yang terbelakang, bangsa yang tertinggal, bangsa yang tidak cerdas.
Tidak benar saudaraku, coba kita lihat, peradaban Nusantara abad ke-10 kita saksikan bersama, bangsa barat baru bisa bercocok tanam di ladang-ladang gandum, mereka baru bisa menggembala sapi di kebon-kebon, di padang rumput ala koboi-koboi, tetapi kita, bangsa kita abad ke10 sudah mampu menciptakan mahakarya. Karya cipta yang besar yang diakui dunia. Ada Candi Prambanan, ada Candi Borobudur.
Kemudian di abad 13, bangsa kita sudah tunjukkan kepada bangsa-bangsa lain bahwa kita bangsa yang besar. Bangsa barat masih tercabik-cabik dengan kepentingan masing-masing, mereka hanya kerajaan-kerajaan kecil. Sementara bangsa kita dengan angkatan bersenjatanya kala itu, Majapahit telah mempersatukan Nusantara menjadi sebuah Negara yang besar. Kenapa kita harus menjadi bangsa yang menjiplak keberadaan bangsa lain, sementara bangsa kita telah memiliki peradaban yang jauh lebih maju ?
Syaratnya satu, seluruh rakyat Wonogiri, marilah kita kembali. Bahwa kita saatnya mensyukuri, mematahkan, menghilangkan ego kita masing-masing. Semuanya yang merasakan abdi negara, semuanya yang merasakan pamong rakyat, semuanya yang merasakan rakyat biasa, kita adalah warga bangsa. Saatnya kita bersatu, tidak boleh terpisah-pisah. Kita tidak perlu menjiplak bangsa lain, kita memiliki eksistensi bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami satu kejayaan. Artinya Nusantara ini, Indonesia ini, telah memiliki jatidiri yang kuat, memiliki satu kepribadian yang kokoh, memiliki angkatan bersenjata yang kuat.
Dengan bersatunya kita, tanpa melihat ke belakang, tanpa melihat salah orang lain, marilah kita lihat salah kita sendiri. Saatnya kita kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang memberikan kita kekuatan untuk membesarkan bangsa dan negara ini. Jayalah Nusantara, Jayalah Indonesia.
Merdeka!! Merdeka!! Merdeka!!

Selasa, 21 Mei 2013

Pemenang Lomba Foto 272 Tahun Wonogiri

Berdasarkan hasil penilaian oleh Dewan Juri yang terdiri dari kalangan jurnalis yang bertugas di Kabupaten Wonogiri yaitu Bambang Purnomo (Harian Suara Merdeka), Tulus Premana Edi (Wawasan), Wibatsu Ari Sudewo (Radar Solo), Pemenang Lomba Foto 272 Tahun Wonogiri sebagaimana berikut :
  1. Kunto Bayu Asmoro (SMK Pancasila 1 Wonogiri) sebagai Juara I
  2. Eko Prasetya (SLB Sulaisa Tirtomoyo) sebagai Juara II
  3. Mulya Dewi (SMA N 1 Wonogiri) sebagai Juara III
  4. Noufal A Alfikri (SDN 4 Wonogiri) sebagai Juara Harapan I
  5. Dwi Yoga Awang Pamungkas (SMPN 3 Satu Atap Tirtomoyo) sebagai Juara Harapan II
  6. Maghfirotul Munawarah (MTs Al Ma'arif Tirtomoyo) sebagai Juara Harapan III
  7. Citra Yuliana Efendi (SMP N 2 Manyaran) sebagai Juara Harapan IV
  8. Dinar Yuliarti (SMK Sudirman 1 Wonogiri) sebagai Juara Harapan V
Kepada para pemenang kami ucapkan selamat atas prestasi yang diraih. Hadiah dan Piagam Penghargaan bagi Juara 1 s/d 3 akan diserahkan pada saat acara Resepsi Harijadi Kabupaten Wonogiri yang digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri Hari Kamis, 23 Mei 2013 Jam 19.30 WIB.
Bagi Juara harapan 1 s/d 5 hadiah dapat diambil di Kantor PD. BPR BKK Wonogiri dengan membawa kartu identitas pelajar untuk pembukaan Tabungan SICIPTA.  Sedangkan Piagam Penghargaan dapat diambil di Bagian Humas Setda Kabupaten Wonogiri.

Bagi yang belum mendapatkan prestasi kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya dalam mengikuti lomba.