Rabu, 01 Agustus 2018

Budaya Jawa; Ajaran Pituduh Tentang Ketuhanan Dalam Masyarakat Jawa (Bagian 1)

Budaya Jawa Yang Adiluhur

Bagi masyarakat Jawa, pencarian dan mengenal ajaran tentang Tuhan atau Gusti Pangeran sudah berlangsung berabad lamanya. Kehidupan spiritualitas masyarakat Jawa terlihat dari adat istiadat hingga nilai norma yang berlaku dan berkembang. 

Upaya pencarian dan penghargaan antara makhluk dengan Sang Pencipta diwujudkan dalam simbolik ritual. Semua makhluk yang hidup didunia, diyakini betul mendapat anugerah dan kasih sayang dari Sang Pencipta, Gusti Kang Akarya Jagad. 

Keselarasan antara manusia dengan alam menjadi satu bagian yang tak terpisahkan,  dikala mencari  nilai sejati tentang ajaran Ketuhanan. Banyak ritual yang dilaksanakan sangat erat kaitannya dengan alam sekitar, tempat tinggal masyarakat Jawa. Ritual ini, menggunakan Uborampe yang juga didapat dari alam sekitar. Sebagian besar merupakan simbolisasi tentang kehidupan.  Gambaran asal-usul manusia serta penyatuan dengan Sang Pencipta dikala sudah meninggal dunia.  

Proses pencarian panjang spiritualitas akan nilai hakiki akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Penguasa Alam Jagad Raya beserta isinya, diejawantahkan dalam bentuk Pituduh oleh para Raja, pujangga dan tokoh-tokoh masyarakat Jawa. 

Pituduh memiliki arti petunjuk. Petunjuk bagaimana mengenal Tuhan Yang Maha Esa secara lebih mendalam.  Tanpa bertentangan dengan ajaran agama dan keyakinan yang dianut. Sebuah kematangan pemikiran dan perenungan hati nurani masyarakat Jawa yang mampu selaras dengan ajaran agama apapun. 

PITUDUH 

Pangeran iku siji, ono ing ngendi papan, langgeng, sing nganaake jagad sak isine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dewe-dewe 
(Tuhan itu satu, ada dimana-mana, abadi, pencipta alam seisinya, dan menjadi sesembahan manusia sejagad raya, dengan memakai caranya sendiri-sendiri)

Makna yang terkandung dari Pituduh ini adalah pengakuan masyarakat Jawa bahwa Sang Pencipta itu hanya satu atau esa. Satu-satunya dzat yang maha agung, maha mulia tanpa ada satu pun menyamai-Nya. Dia-lah yang menciptakan alam jagad raya beserta isinya, makhluk-makhluk, baik yang nampak dan yang tidak. Baik mampu dijangkau alam fikir manusia hingga yang tak terjangkau dalam khayalan. 

Dzat Yang Maha Esa atau Tuhan Yang Maha Esa inilah yang diyakini yang pantas disembah oleh seluruh manusia didunia. Manusia yang ada didunia terus menerus mengagungkan-Nya, dengan berbagai tata cara dan ajaran yang berbeda. Akan tetapi pada esensinya adalah sama, manusia menyembah pada satu Dzat Yang Maha Esa yang memberi kehidupan dan mengambilnya kembali. 

Pangeran iku ana ing ngendi papan; aneng sira uga ana Pangeran, nanging aja sira wani ngaku pangeran. 
(Tuhan itu ada dimana-mana, juga ada pada dirimu, tapi jangan engkau berani mengaku dirimu Tuhan)

Makna yang terkandung dalam Pituduh ini adalah sebuah petunjuk bagi masyarakat Jawa bahwa Tuhan beserta sifat-sifatnya dapat 'dirasakan' dimanapun di dunia. Bahkan didalam diri manusia terdapat 'sifat Tuhan'. Ada satu ungkapan bahwa jika engkau ingin mengenal Tuhan maka dimulai lah dengan mengenal dirimu sendiri. Jika mampu mengenal diri sendiri maka secara tidak langsung akan mampu mengenal Tuhan. 
Jika kita berfikir serta merenung secara mendalam dengan melihat diri kita sendiri, bagaimana kita bisa lahir kedunia, maka kita akan diajak untuk mengetahui rahasia Tuhan yang ada didalam diri kita. Bagaimana kita bisa hidup, bisa berfikir, bisa berangan-angan, dan kemampuan canggih lainnya dibanding dengan makhluk lainnya. Di saat semua akal pikiran kita sudah tidak mampu lagi memberikan jawaban, maka disitulah kita mengakui bahwa ada satu kekuatan besar yang mampu mengatur itu semua. Secara sadar kita akan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, meskipun manusia memiliki kelebihan-kelebihan bahkan kekuasaan yang tinggi janganlah menjadikan sombong dengan  menyebut sebagai Tuhan. 

Bersambung....

(Sumber: Buku Butir-Butir Budaya Jawa)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar